Kredit Usaha Tani

Kredit Usaha Tani adalah kredit modal kerja yang disalurkan melalui lembaga keuangan (bank), koperasi atau KUD (Koperasi Unit Desa) dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang digunakan untuk membiayai usahatani dalam intensifikasi tanaman padi, palawija dan hortikultura. Kredit yang dimaksud merupakan tambahan modal sebagaimana yang dijelaskan dalam Undang-undang pokok perbankan; bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan atau yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan tujuan pinjam meminjam antara pihak bank dengan pihak lain dalam hal mana pihak peminjam berkewajiban melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditentukan atau ditetapkan sebelumnya.

Kredit yang diberikan oleh pihak atau lembaga pemberi kredit tersebut didasarkan atas azas keercayaan sehingga dapat dikatakan secara eksplisit bahwa pemberian kredit tersebut merupakan pemberian kepercayaan.

Atas dasar itulah maka pihak pemberi kredit akan memberikan kredit bila ia betul-betul yakin bahwa si penerima kredit atau dalam hal ini petani akan mampu untuk mengembalikan kredit yang diterima sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Selain unsur kepercayaan, terdapat unsur lain yaitu unsur waktu yang dalam hal ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kegiatan kredit dimana waktu merupakan suatu masa atau tempo yang memisahkan antara pemberian kredit di waktu awal dengan masa yang akan datang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Langkah-langkah Proses Perhitungan MRP

Menurut Yamit, 2007, langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses perhitungan MRP adalah sebagai berikut  :

  1. Menentukan kebutuhan bersih

Kebutuhan bersih (net requirement) adalah selisih antara kebutuhan kotor (gross requirement) dengan persediaan yang ada di tangan (on hand). Data yang diperlukan dalam menentukan kebutuhan bersih adalah kebutuhan kotor setiap periode, persediaan yang ada di tangan dan rencana penerimaan (scheduled recepts) pada periode mendatang sedangkan kebutuhan kotor yang dimaksudkan adalaj jumlah permintaan produk akhir. Untuk komponen yang lebih rendah maka kebutuhan kotor dihitung dari komponen yang berada di atasnya dengan dikalikan kelipatan tertentu sesuai dengan kebutuhan. Perhitungan kebutuhan bersih dapat diperbaiki dengan menambahkan faktor persediaan pengaman tetapi hanya ditujukan untuk permintaan independen.

2.  Menentukan jumlah pesanan

Penentuan jumlah pesanan baik untuk item maupun komponen didasarkan kebutuhan bersih. Alternatif yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya ukuran lot pemesanan yaitu penyeimbangan antara biaya set up dengan ongkos simpan, fixed order quantity, lot for lot ordering, periodic order quantity dan metode akumulasi.

3.  Menentukan BOM dan kebutuhan kotor setiap komponen

Bom ditentukan berdasarkan struktur produk dengan memuat informasi nomor dan jenis komponen, jumlah kebutuhan komponen di atasnya dan sumber diperolehnya komponen sedangkan kebutuhan kotor setiap komponen ditentukan oleh rencana pemesanan (planned order releses) komponen yang berada di atasnya dengan dikalikan kelipatan tertentu sesuai kebutuhan.

4.  Menentukan tanggal pemesanan

Menentukan saat yang tepat untuk melakukan pemesanan dan dipengaruhi oleh rencana penerimaan (planned order receipts) dan tenggang waktu pemesan (lead time).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bimbingan Skripsi Agribisnis 2008

Nugrahasto Suwondo 0810440121
Andrean Eka Hardana 0810440014
Mita Mardyarini 0810440107
Septiana Tri Rahayu 0810440150
Sylvia Rahmawati R 0810440283
Erista Indriati 0810443013
Moh. Syarifuddin E 0810440111
Ratna Sari D 0810440263
RR. Ratih Probo L 0810440148
Devita Intan M 0810440203
Arfiana Yulia A 0810440189
Slamet Widodo 0810440154
Dewi Masithoh 0810440204
Nurul Novita 0810440259
Sugeng Riyanto 0810440280
Alfiyan Rosyadi 0810443029
Arfi Kurniawati 0810440023
Fajriyati Nurul U 0810440218

Posted in Uncategorized | Leave a comment